kesalahan mengelola keuangan freelance
- - -

5 Kesalahan Freelancer dalam Mengelola Keuangan

Sudah hampir 15 tahun saya bekerja sebagai karyawan sebelum beralih pekerjaan sebagai full time freelance.

Kalau ada yang bertanya (mungkin) pilih kerja kantoran atau freelancer, sekarang sih lebih pilih bekerja freelance, bekerja dari rumah. Ya kali soalnya di kota tempat saya tinggal ini gak ada pabrik atau perusahaan. Lebih banyak kantor-kantor pemerintahan.

Banyak penduduk di kota ini berprofesi sebagai PNS dan pedagang. Meskipun ada perusahaan macam perusahaan kelapa sawit, lokasinya nun jauh di sana di area hutan.

Omong-omong tentang mengelola keuangan, terus terang nih, saya sering blong alias dodol banget dalam hal manajemen keuangan.

Dulu, setiap gajian selalu habis dan sama sekali tidak pernah punya tabungan, apalagi investasi. Mungkin juga karena gajinya mepet kali ya haha… ya iyalah kalau gajinya hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan primer, apa yang akan di tabung dan investasi, ya kan ??

Baca juga: Financial Basic, 3 Keranjang Keuangan

Anehnya, atau lebih ke syukurnya, setelah saya bekerja sebagai freelancer, penghasilan saya per bulan sekarang ini malah lebih besar dari pada saat bekerja sebagai karyawan dulu. Bisa di 3 sampai 5 kali lipat kalau saya bandingkan.

Nah, barulah kali ini saya bisa mulai menyisihkan uang untuk berinvestasi. Saya memilih investasi di pasar saham dan reksadana. Maunya juga investasi diamond gitu… hahahh banyak mau.

Mbak blogger satu ini, mba Vicky juga banyak menulis tentang investasi loh, salah satu artikel menarik tentang saham yang ditulis beliau adalah Saham Bagi Pemula.

Mungkin banyak orang melihat dan menilai freelancer itu pekerjaan paling enak sedunia. Gak harus berangkat ngantor karena pekerjaan bisa dilakukan dari rumah, gak harus pakai pakaian rapi atau seragam karena toh pakai kolor juga bisa kerja, gak ada uang terbuang untuk beli bensin, bisa nemenin anak-anak di rumah, waktu yang sangat fleksibel dll dll.

Artikel menarik : Cara mendapatkan Job di Upwork (tanpa experience)

Tapi jangan salah, bekerja sebagai freelencer juga banyak gak enaknya loh, wong saya mengalami sendiri.

Apa sih gak enaknya ? ya kalau pas job lancar sih gak masalah, dollar mengalir dengan tenang. Tapi kalau gak ada job, artinya gak ada duit juga. Beda dengan karyawan, ada kerjaan gak ada kerjaan, sebagai karyawan, perusahaan wajib menjamin gaji tepat waktu, betul atau betul ?

Sebagai karyawan, mood enak atau tidak enak tetap harus berangkat kerja, freelancer lain lagi. Sering loh, pas mood saya jelek terus saya jadi males kerja.

Yang harusnya sehari bisa dapat sekian dollar, blong. Karena gak ada yang mengawasi juga, gak ada yang ngomel juga kalau saya gak kerja haha. Terlalu merdeka yang kalau keterlaluan bisa menjerumuskan saudara.

So, menjadi freelancer punya tanggung jawab yang besar. Kepada siapa ? Kepada diri sendiri dulu lah. Kadang-kadang nih, dari 5 hari kerja seminggu, sehari atau 2 hari saya bisa males banget kerja. Meskipun tetep cari job baru sih, biar ada efek penyegaran.

Sialnya, bekerja sebagai freelancer gak boleh menggantung hati di salah satu klien. Maksud saya, jangan terlalu berharap kita akan kerja terus bareng klien tersebut. Karena suatu saat, ada saatnya kontrak harus berakhir.

Meskipun kita pengen terus bekerja sama dia, kayaknya dianya yang gak mau kerja terus bareng kita haha…Iyalah, kan bukan pegawai tetap. Jadi, saran saya, anggap semua klien sebagai klien, jangan sebagai teman. Kalau tidak kamu akan menderita fergusso.

Artikel menarik : Kerja Freelance Itu Apa Sih?

Seperti yang saya bilang di atas, saya bodoh banget dalam hal manajemen keuangan. Soalnya gini, kalau ada uang nih, ehh pengen jajan, cuzz langsung jajan. Dan itu dalam 30 hari bisa hitungan 25 hari saya makan di luar, meskipun di rumah masak juga. Yang mana pasti membuat pengeluaran saya bengkak sebengkak-bengkaknya pakai banget. Ini godaan yang saya susah saya tahan.

Kalau macam diskon sepatu, tas atau baju sih enggak terlalu yaa. Paling pas ada diskon 50% atau saya pas seneng banget, lucuk gitu, baru saya beli. Kadang- kadang sebulan beli 3 pasang sepatu, bulan berikutnya stop. Bulan ini beli sweater setengah lusin bulan berikutnya stop, gitu.

Setelah saya nyebur di dunia freelancer selama 1 tahun ini, ternyata ada banyak kesalahan-kesalahan yang pada umumnya di lakukan oleh freelance pemula dalam hal mengelola keuangan, ini diantaranya.

Kesalahan yang dilakukan freelance dalam mengelola keuangan.

Tidak ada catatan keuangan

Seringkali kita tidak sadar, pengeluaran receh-receh dan remeh temeh gitu kalau di total akhirnya bisa jadi banyak loh. Misal, ngopi di warkop, beli hotdog, wedang ronde, gorengan, cilok, dll.

Nilainya sih paling 10-50 ribuan per hari, tapi kalau jajannya gila kayak saya, sebulan di total bisa sampai hampir 1 jutaan loh. Kan mayan nih bisa buat investasi.

Belum lagi pengeluaran buat para kucing di rumah. Beli makanan kucing, ikan, pasir, dll. Hampir menyamai jumlah pengeluaran manusianya hahaha…Belum kalau harus steril, vaksin, dll.

Maka dari itu, mulai 6 bulan yang lalu, saya membuat catatan pemasukan dan pengeluaran sederhana di google sheet, biar bisa di buka di komputer mana saja di rumah. Jadi saya bisa tau, bulan ini saya boros di beli baju atau jajan atau bayar kartu kredit atau malah terlalu banyak investasi (gak mungkin eh belum mungkin hehehe).

Jadi misalnya minggu kemarin saya sudah banyak keluar untuk beli skincare, ya minggu-minggu selanjutnya harus stop dulu. Gitu deh, jadi bisa kelihatan mana pengeluaran yang bisa di pending atau di stop. Mana yang prioritas mana yang tidak.

Tidak menentukan prioritas Keuangan

Agar tidak bingung mana dulu yang harus didahulukan sementara keuangan terbatas, kita perlu menentukan prioritas keuangan. Misal, prioritas bulan ini adalah renovasi ruang tamu. Prioritas tahun ini adalah membayar biaya masuk sekolah anak. Atau misalnya membeli kendaraan.

Prioritas sama dengan tujuan. Kadang kita jadi boros karena tidak punya tujuan keuangan.

Tidak mempunyai asuransi

Meskipun bekerja dari rumah, sebaiknya kita tetap harus mempunyai asuransi. Karena apa? Sebagai freelancer, kita tidak menerima asuransi gratis dari client. Kita harus mengupayakan sendiri.

Apalagi kalau kita adalah bread winner alias pencari nafkah utama di keluarga, apabila kita mengalami sesuatu (kecelakaan atau apapun) atau risiko yang menyebabkan kita tidak bisa bekerja sehingga tidak bisa menghasilkan uang, dengan asuransi, semua bisa teratasi.

Ada beberapa tipe asuransi seperti asuransi konvensional dan asuransi unit link. Pilih yang mana yang paling sesuai dengan kebutuhanmu. Bandingkan manfaat antara asuransi satu dengan yang lainnya.

Kalau kamu ingin tahu tentang pilihan asuransi terbaik, hubungi saya via email di indri.araidna@gmail.com. Saya memberikan konsultasi gratis dan juga pilihan plan sesuai kebutuhan. Jangan sampai salah mengetahui tentang asuransi kesehatan dan asuransi jiwa.

Baca juga: Perbedaan Manfaat Asuransi Kesehatan vs BPJS

Selama kita masih bisa menghasilkan uang, sisishkan beberapa persen untuk membayar asuransi, demi kemanan dan kenyamanan diri sendiri dan keluarga. Amit-amit kita sakit, ada asuransi yang bisa membantu covering up, jadi pengeluaran kita untuk biaya rumah sakit sudah terjamin.

Tidak punya dana darurat

Selain dana untuk asuransi kesehatan, salah satu hal yang penting buat freelancer adalah mempunyai dana darurat.

Why mengapa? Beruntunglah mereka para freelancer yang mempunyai long term job sehingga tidak susah payah harus selalu mencari client baru.

Tapi untuk freelancer yang mempunyai short term contract, mencari client dan project baru bisa menyebabkan stress. Dana sudah menipis sementara belum ada job lain yang masuk.

Beda cerita kalau kita sudah punya dana darurat minimal 3 bulan pengeluaran rumah tangga. Kita masih ada waktu maksimal 3 bulan untuk mencari job dan client baru.

Kita jadi tidak terburu nafsu dan tidak sembarangan menerima job. Bahaya kalau kita menerima job dalam keadaan kepepet dan keburu, biasanya kita tidak aware dengan client yang kurang baik.

Tidak mempunyai dana pensiun

Usia saya sekarang sudah 40 tahun. Tidak mungkin saya bekerja terus saat umur saya nanti 55 atau 60 tahun. Otak dan tenaga pasti sudah tidak kinclong lagi seperti saat masih muda.

Mumpung masih muda, sisihkan pendapatan untuk dana pensiun. Ada beberapa bank yang membuka tabungan khusus untuk dana pensiun, sepertinya BPJS juga ya. Dengan ketentuan setoran tabungan sejumlah tertentu dan selalu tetap jumlahnya dalam jangka waktu tertentu sesuai kesepakatan.

Saya pribadi, karena dana pensiun ini mungkin akan di gunakan 15-20 tahun lagi, saya lebih memilih untuk berinvestasi di pasar saham. Meskipun risikonya tinggi, imbal hasil yang di dapat juga sepadan.

Jadi, ayo para freelancer, kita mengelola keuangan dengan baik dan benar !

Similar Posts

6 Comments

  1. Mbak Indri, salam kenal, saya Lia.

    begini mbak, kok saya tertarik sekali ya sama Upwork, untuk memulai awal apa yang mesti saya lakukan ya mbak?
    terimakasih info nya Mbak Indri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.