Freelancer Harus Punya 6 Sikap Ini, Penting!
Banyak orang berpikir jadi freelancer itu pekerjaan paling enak sedunia — kerja dari rumah sambil dasteran, bangun tidur langsung kerja tanpa ada yang mengawasi.
Yang mereka tidak tahu: jadi freelancer butuh lebih dari satu skill, dan bukan cuma soal skill teknis — attitude dan sikap kerja itu sama pentingnya, kalau bukan lebih. Freelancer harus siap menghitung harga jasa sendiri, berani negosiasi, siap menanggung biaya operasional bulanan (WiFi, aplikasi berbayar), dan tetap mengontrol emosi menghadapi klien yang menantang. Freelance itu perpaduan sales, marketing, dan akuntan sekaligus — semua nggak bisa dipisah-pisah.
Ini 6 sikap minimal yang harus dimiliki freelancer supaya bisa sukses dan dipercaya klien. Minimal — maksimalnya nggak terbatas.
1. Jadi Problem Solver
Klien menyewa freelancer karena mereka punya masalah yang perlu dibantu — nggak sempat menulis artikel blog, nggak sempat urus toko online, nggak sempat handle customer service atau media sosial sendiri. Yang mereka cari cuma satu: seseorang yang bisa diandalkan untuk meringankan masalah itu.
Tanya ke diri sendiri: kamu ini problem solver atau justru trouble maker buat klien? Apakah kamu benar-benar ingin membantu, atau cuma mengejar uangnya saja?
2. Can-Do Attitude
Ada freelancer yang berpikir “ini bukan job-ku, aku nggak wajib bantu di luar yang dibayar.” Tapi kalau klien minta tambahan kecil dan sebenarnya kamu bisa mengerjakannya, lakukan saja. Itu menambah nilai kamu di mata klien, membangun kepercayaan, dan bisa jadi alasan kontrak diperpanjang tanpa kamu harus cari klien baru.
3. Selalu Tertarik dengan “Orang”
Freelancer itu bekerja dengan orang lain, bukan cuma mengerjakan tugas. Kamu bisa menarik klien dengan mendengarkan masalah mereka, bertanya kebutuhan mereka, dan menawarkan ide atau solusi dengan tulus — bukan sekadar jualan jasa.
Orang lebih memilih bekerja sama dengan seseorang yang terasa seperti partner, bukan sekadar vendor. Kalau kamu ingin mendalami ini lebih jauh, buku Think and Grow Rich (Napoleon Hill) dan How to Win Friends and Influence People (Dale Carnegie) masih relevan sampai sekarang.
4. Bisa Menerima Penolakan
Sales, marketing, dan freelance adalah tiga pekerjaan dengan tingkat penolakan paling tinggi. Saya pernah bekerja sebagai freelance sales ekspor mebel — mencari buyer internasional untuk order minimal 1×20 feet container, semua lewat email tanpa pernah bertemu langsung. Untuk dapat satu order, saya harus kirim ratusan email dan ditolak berkali-kali setiap hari.
Pengalaman itu ternyata sangat berguna waktu saya mulai di Upwork. Dari ratusan proposal yang saya kirim selama bertahun-tahun, yang deal mungkin cuma sekitar 10%-nya — 90% sisanya ditolak. Tapi dari 10% itu saja, saya bisa menutup semua pengeluaran bulanan bahkan mulai berinvestasi.
Rejection itu normal. Jangan dihindari — hadapi saja, cari prospek lain, dan lanjut coba lagi.
5. Belajar Berkata Tidak
Nggak semua pekerjaan harus kamu terima, dan nggak semua klien harus kamu terima. Beberapa sinyal yang layak jadi pertimbangan untuk menolak sebuah job atau klien:
- Rate di bawah standar pasar untuk level skill dan pengalaman kamu — menerima ini terus-menerus cuma akan menurunkan standar rate kamu sendiri.
- Red flag di komunikasi awal — brief yang tidak jelas, ekspektasi yang berubah-ubah, atau komunikasi yang tidak profesional sejak sebelum kontrak mulai.
- Ketidakcocokan skill — job yang sebenarnya di luar kompetensi kamu, meski secara finansial menggiurkan.
Freelancer juga harus punya sikap untuk tidak serakah dan tidak mudah menurunkan standar rate hanya karena takut kehilangan kesempatan.
Kalau kamu butuh contoh cara menyampaikan penolakan secara profesional ke klien yang sudah terlanjur jalan, saya bahas lebih detail di Menghadapi Klien yang Sulit: Tantangan dan Solusi untuk Freelancer.
6. Jangan Terlalu Nyaman dengan Skill yang Sekarang
Industri digital berkembang cepat — kamu harus terus update dengan tools dan software yang relevan dengan bidangmu. Di dunia off-page SEO misalnya, nama-nama seperti Moz, Buzzstream, Pitchbox, dan Keap (dulu bernama Infusionsoft) masih jadi pemain penting, ditambah teknik-teknik seperti skyscraper technique yang terus dipakai.
Sama seperti desainer grafis yang dulu cuma mengandalkan Photoshop, sekarang ada banyak pilihan software lain. Mengasah kemampuan dan terus belajar hal baru itu investasi — atau modal — yang nggak boleh berhenti.
Sudah punya 6 sikap di atas, tapi masih bingung cara menerapkannya di lapangan (terutama soal negosiasi rate dan menghadapi klien sulit)? Pelajari lebih lengkap di 30 Day Upwork Bootcamp.
Kesimpulan
Frasa “jadi freelancer sukses” mungkin terdengar santai dan mudah. Tapi percayalah, tidak sesederhana itu — kamu butuh skill, keahlian, dan attitude yang saling melengkapi untuk benar-benar bisa diandalkan klien.
Keep fighting, dan don’t give up!